PERILAKU RIYA

Makalah Pendidikan Agama Islam

Perilaku Riya

 Image

Disusun oleh

  1. 1.     Imam Karyoto
  2. 2.     Indah Arum Sari
  3. 3.     Laelatul Istikharoh
  4. 4.     Moh. Ali Fahrrozi
  5. 5.     Noviani
  6. 6.     Nur Su’aidah
  7. 7.     Silvira Duwi Anggraeni

Kelas  : X A

PEMERINTAH KOTA TEGAL

DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA

UPTD SMK IHSANIYAH TEGAL

Jl. Sumbodro No. 14 Kota Tegal

 

Pengesahan

Laporan penilitian yang berjudul

 

“PERILAKU RIYA”

Yang disusun oleh:

                                                        1. Imam Karyoto

                                                        2. Indah Arum Sari

                                                        3. Laelatul Istikharoh

                                                        4. Moh. Ali Fahrrozi

                                                        5. Noviani

                                                       6. Nur Su’aidah

                                                       7. Silvira Duwi Anggraeni

Telah diperiksa dan disetujui oleh

Pembimbing SMK Ihaniyah Tegal

pada tanggal 5 Maret 2013

Mengetahui,

Pembimbing

 

 

Fatmawati, S.Pd

NIP :

 

Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan YME yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulisan Makalah ini selesai.

Penulisan Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)  mengenai Perilaku Riya

Penulis menyadari begitu banyak pihak yang membantu, memberi semangat, dan dorongan sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan penulis sampaikan kepada :
Dr. Yusqon, M.Pd selaku Kepala Sekolah SMK IHSANIYAH Tegal  yang telah memberi kesempatan penulis untuk menyelesaikan makalah ini.

Fatmawati, S.Pdselaku guru Pendidikan Agama Islam (PAI)  yang telah memberikan arahan dan bimbingan penuh dengan kesabaran serta ketelitian dalam menyusun makalah.

Ayah, Ibu, dan adik yang senantiasa memberikan semangat, kasih sayang yang tulus kepada penulis dalam penyusunan makalah ini. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu baik moral, maupun material terhadap penulis. Semoga Allah SWT membalas kebaikan mereka, serta melimpahkan pahala. Harapan penulis semoga makalah ini dapat berguna bagi semua pihak, baik masa kini maupun masa yang akan datang. Kritik dan saran yang sifatnya membangun dari pembaca sangat diharapkan.

 

 

 

 

 

Tegal,    Maret 2013
                                     

 

 

 

  Penulis

Daftar Isi

Judul……………………………………………………………………………………………….…1

Pengesahan………………………………………………………………………………………..2

Kata Pengantar…………………………………………………………………………………..3

Daftar Isi……………………………………………………………………………………………4

Bab I PENDAHULUAN

  1. Pengertian dan Penjelasan Perilaku Riya……………………..5
  2. Hadis Perilaku Riya…………………………………………………….6
  3. Sebab-sebab terjadinya Perilaku Riya…………………………7
  4. Macam-macam Perilaku Riya………………………………………8
  5. Ciri-ciri Perilaku Riya…………………………………………………10
  6. Dampak dari Perilaku Riya…………………………………………10
  7. Contoh Perilaku Riya………………………………………………….11

H. Cara Mengatasi Perilaku Riya………………………………………11

Bab II Kesimpulan

  1. Kesimpulan………………………………………………………………12
  2. Saran………………………………………………………………………..13

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………….14

 

Bab I. Pendahuluan

  1. Pengertian dan Penjelasan Perilaku Riya

Definisi Riya secara Etimologi
Kata riya berasal dari kata ru’yah, yang artinya menampakkan. Dikatakan arar-rajulu, berarti seseorang menampakkan amal shalih agar dilihat oleh manusia. Makna ini sejalan dengan firman Allah SWT:

 ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ () وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ ()

“…Orang-orang yang berbuat riya dan enggan menolong dengan barang berguna.” (QS. Al-Maa’uun : 6-7)

 

وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ خَرَجُواْ مِن دِيَـٰرِهِم بَطَرً۬ا وَرِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ‌ۚ وَٱللَّهُ بِمَا يَعۡمَلُونَ مُحِيطٌ۬  

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi [orang] dari jalan Allah. Dan [ilmu] Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Anfal : 47)

Definisi Riya secara Terminologi
Pengertian riya secara istilah/terminologi adalah sikap seorang muslim yang menampakkan amal shalihnya kepada manusia lain secara langsung agar dirinya mendapatkan kedudukan dan/atau penghargaan dari mereka, atau mengharapkan keuntungan materi.

Pengertian Sum’ah secara Etimologi
Kata sum’ah berasal dari kata samma’a (memperdengarkan). Kalimat samma’an naasa bi ‘amalihidigunakan jika seseorang menampakkan amalnya kepada manusia yang semula tidak mengetahuinya.

Definisi Sum’ah secara Terminologi
Pengertian sum’ah secara istilah/terminologi adalah sikap seorang muslim yang membicarakan atau memberitahukan amal shalihnya -yang sebelumnya tidak diketahui atau tersembunyi- kepada manusia lain agar dirinya mendapatkan kedudukan dan/atau penghargaan dari mereka, atau mengharapkan keuntungan materi.

Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani mengetengahkan pendapat Izzudin bin Abdussalam yang membedakan antara riya dan sum’ah. Bahwa riya adalah sikap seseorang yang beramal bukan untuk Allah; sedangkan sum’ah adalah sikap seseorang yang menyembunyikan amalnya untuk Allah, namun ia bicarakan hal tersebut kepada manusia. Sehingga, menurutnya semua riya itu tercela, sedangkan sum’ah adalah amal terpuji jika ia melakukannya karena Allah dan untuk memperoleh ridha-Nya, dan tercela jika dia membicarakan amalnya di hadapan manusia.

Dalam Al-Qur’an Allah telah memperingatkan tentang sum’ah dan riya ini:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبۡطِلُواْ صَدَقَـٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُ ۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ‌ۖ فَمَثَلُهُ ۥ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٌ۬ فَأَصَابَهُ ۥ وَابِلٌ۬ فَتَرَڪَهُ ۥ صَلۡدً۬ا‌ۖ لَّا يَقۡدِرُونَ عَلَىٰ شَىۡءٍ۬ مِّمَّا ڪَسَبُواْ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡكَـٰفِرِينَ ()
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan [pahala] sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti [perasaan si penerima], seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih [tidak bertanah]. Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (QS. Al-Baqarah : 264)

Rasulullah SAW juga memperingatkan dalam haditsnya:

Siapa yang berlaku sum’ah maka akan diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah dan siapa yang berlaku riya maka akan dibalas dengan riya. (HR. Bukhari)

Diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah maksudnya adalah diumumkan aib-aibnya di akhirat. Sedangkan dibalas dengan riya artinya diperlihatkan pahala amalnya, namun tidak diberi pahala kepadanya. Na’udzubillah min dzalik.

Dalam hadits yang lain, Rasulullah menjelaskan tentang kekhawatirannya atas umat ini terhadap riya yang akan menimpa mereka. Riya yang tidak lain merupakan syirik kecil.

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Riya.” “Allah akan berfirman pada hari kiamat nanti ketika Ia memberi ganjaran amal perbuatan hamba-Nya, ‘Pergilah kalian kepada orang yang kalian berlaku riya terhadapnya.’ Lihat Apakah kalian memperoleh balasan dari mereka?” Kemudian Rasulullah mendengar seseorang membaca dan melantunkan dzikir dengan suara yang keras. Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya dia amat taat kepada Allah.” Orang tersebut ternyata Miqdad bin Aswad. (HR. Ahmad)

 

  1. Hadis Perilaku Riya

“Barangsiapa melakukan perbuatan sumah niscaya Allah akan memperdengarkan aibnya dan barangsiapa melakukan perbuatan riya, niscaya Allah akan memperlihatkan aibnya,”( Hadits riwayat Muslim, 4/2289.)

 

(Perbuatan riya adalah suatu perbuatan yang dilakukan dengan cara tertentu supaya dilihat orang lain dan dipujinya. Misalnya, seseorang melakukan shalat, lalu memperindah shalatnya, tatkala mengetahui ada orang yang melihat dan memperhatikannya. Sedangkan perbuatan sumah adalah suatu perbuatan yang dilakukan dengan maksud agar didengar dan dipuji orang lain. Misalnya, seseorang membaca Al-Quran, lalu memperindah suara dan lagunya tatkala mengetahui ada orang yang mendengar dan memperhatikan-nya.

 

Barangsiapa melakukan suatu ibadah tetapi ia melakukannya karena mengharap pujian manusia di samping ridha Allah, maka amalannya menjadi sia-sia belaka. Seperti disebutkan dalam hadits qudsi,

“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amal dengan dicampuri perbuatan syirik kepadaku, niscaya Aku tinggalkan dia dan (tidak Aku terima) amal syiriknya.”( Hadits riwayat Muslim, hadits no. 2985.)

 

  1. Sebab-sebab Terjadinya Perilaku Riya

Hal penting yang perlu kita ketahui dalam masalah riya adalah sebab-sebab yang bisa menjatuhkan diri kita dalam penyakit ini. Di antara sebab-sebabnya adalah sebagai berikut.

  1. 1.   Lingkungan keluarga.

Keluarga merupakan tempat di mana anggota-anggotanya berinteraksi secara intens sehingga yang terjadi adalah saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain. Apabila seseorang hidup dalam sebuah keluarga yang kental dengan tampilan-tampilan riya, maka sulit untuk tidak jatuh pada penyakit ini, terlebih anak-anak yang punya kecenderungan untuk mengikuti orang tua. Maka, langkah strategis yang harus dilakukan orang tua adalah memperdalam ajaran Islam sehingga sang anak akan mampu membentengi dan memproteksi dirinya dari riya.

  1. 2.   Pengaruh teman.

Sebagaimana keluarga mempunyai pengaruh yang kuat dalam mempengaruhi putih hitamnya perilaku kita, teman pun demikian, sehingga Allah SWT senantiasa menganjurkan kepada kita agar kita mencari dan menjadikan orang-orang yang saleh sebagai mitra kita atau teman dalam bergaul kita. Allah telah menggambarkan sebuah penyesalan hambanya yang salah dalam berinteraksi. Allah SWT berfirman, “Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(ku).” (al-Furqaan (25) : 28)

  1. 3.   Tidak mengenal Allah SWT dengan baik.

Ketidaktahuan seseorang akan kedudukan keagungan Allah SWT dan kebesaran-Nya akan menghantarkan pada tampilan sikap dalam beribadah kepada Allah SWT. Maka, mengenal Allah merupakan hal yang urgen sekali oleh karena dengan cara itulah kita akan terjaga dari kesalahan-kesalahan dalam beribadah kepada Allah, termasuk munculnya penyakit riya.

  1. 4.   Keinginan yang berlebihan untuk menjadi pemimpin atau meraih jabatan dan kedudukan.
  2. 5.   Ketamakan kepada harta.
  3. 6.   Kekaguman yang berlebihan dari orang lain.

Kekaguman yang berlebihan dari orang lain manakala tidak dikelola dengan baik bisa menjadikan orang yang dikagumi membusungkan dadanya dan lupa kepada Allah SWT sehingga timbullah sikap riya. Penyebabnya, ia akan senantiasa mencari celah agar sikap, perilaku, dan ibadahnya senantiasa mendapat  sanjungan orang lain.

  1. 7.   Kekhawatiran penilaian yang kurang menyenangkan dari orang lain.

 

  1. Macam-macam Perilaku Riya

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa riya’ ada 2 macam, sebagaimana ulama menguraikannya:

وَهُوَ قِسْمَانِ : رِيَاءٌ خَالِصٌ كَانَ لاَ يَفْعَلَ الْقُرْبَةَ إِلاَّ لِلنَّاسِ ,

 وَرِيَاءٌ شِرْكٌ كَانَ يَفْعَلَهَا ِللهِ وَلِلنَّاسِ وَهُوَ أَخَفُّ مِنَ الْأَوَّلِ

“ riya’ dibagi kedalam dua tingkatan: riya’ kholish yaitu melakukan ibadah semata-mata hanya untuk mendapatkan pujian dari manusia, riya’ syirik yaitu melakukan perbuatan karena niat menjalankan perintah Allah, dan juga karena untuk mendapatkan pujian dari manusia, dan keduanya bercampur”.

Maka hal ini sesuai dengan perkataan ulama ahli sufi, bahwa kita kadang tidak bisa membedakan antara riya’ jali (terang) dan khafi (samar), kecuali orang-orang yang benar-benar selalu mensucikan dalam hatinya hanyalah beribadah kepada Allah semata. Karena dengan kedekatan pada-Nya, dalam hatinya sudah dibersihkan daripada penyakit-penyakit yang buruk (madzmumah)[6]:

وَلَا يَسْلِمُ مِنَ الرِّيَاءِ الْجَلِيِّ وَالْخَفِيِّ إِلَّا الْعَارِفُوْنَ الْمُوَحِّدُوْنَ لِأَنَّ اللهَ طَهَّرَهُمْ مِّنْ دَقَائِقِ الشِّرْكِ

Allah berfirman dalam surat al-Kahfi ayat 110:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ  

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu yang diwahyukan kepadaku, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa, Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.

Ayat diatas menerangkan kepada kita, sekiranya beramal tapi masih mengharapkan pujian daripada selain Allah, maka sifat riya’ sudah masuk dalam diri kita, dan itu sangat berbahaya karena kita beramal untuk menuai hasilnya nanti di akhirat.

Allah SWT berfirman dalam surat Asy-Syuura ayat 20:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآَخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ

وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat”.

Apapun jenis ibadah yang kita lakukan, hendaklah dengan satu tujuan menghadap kepada sang Ilaah, seperti sholat yang kita kerjakan setiap hari lakukanlah hanya untuk Allah, baik ketika sholat sendiri atau pun ada orang di sekitarnya, beribadahlah hanya untuk Allah yang Maha Mulia. Allah berfirman dalam surat al-Maa’uun ayat 4-7:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ , الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ , الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ , وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna”.

Beberapa Diantaranya yaitu :

  1. Seorang hamba dalam beribadah menginginkan selain Allah. Dia senang orang lain tahu/melihat apa yang diperbuatnya. Dia tidak menunjukkan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah dan ini termasuk jenis nifaq.
  2. Seorang hamba beribadah dengan tujuan dan keinginannya ikhlas karena Allah, namun ketika manusia melihat ibadahnya maka ia bertambah giat dalam beribadah serta membaguskan ibadahnya. Ini termasuk perbuatan syirik tersembunyi.
  3. Seorang hamba beribadah pada awalnya ikhlas karena Allah dan sampai selesai keadaannya masih demikian, namun pada akhir ibadahnya dipuji oleh manusia dan ia merasa bangga dengan pujian manusia tersebut serta ia mendapatkan apa yang diinginkannya (dunia, missal: dengan memperoleh kedudukan di masyarakat dll).
  4. Riya’ badaniyah, yaitu perbuatan riya’ dengan menampakkan badan/jasadnya kurus karena banyaknya ibadah sehingga ia disebut sebagai orang ABID (Ahli Ibadah).
  5. Riya’ dari sisi penampilan atau model. Seperti orang yang berpenampilan compang-camping agar ia dilihat seperti orang yang berlaku/berbuat zuhud 1).
  6. Riya’ pada ucapan, misal orang yang memberat-beratkan suaranya.
  7. Riya’ dengan amalan.
  8. Riya’ dengan teman dan orang-orang yang mengunjunginya. Misal: Teman-teman/orang-orang yang mengunjunginya adalah para ustadz/ulama, maka ia menjadi bangga dan mengharap pujian dari hal tersebut.
  9. Riya’ dengan mencela dirinya dihadapan manusia.
  10.  Seorang beramal dengan amal ketaatan dan tidak seorangpun mengetahuinya, ia tidak ingin tenar. Akan tetapi jika ia dilihat manusia, ia menginginkan diawali/dihormati dengan pengucapan salam.
  11. Menjadikan perbuatan ikhlasnya itu sebagai wasilah terhadap apa yang dia inginkan.

 

  1. Ciri-ciri Perilaku Riya

Pengetahuan kita tentang ciri-ciri orang yang mempunyai sifat riya merupakan hal penting oleh karena kita akan melakukan penyikapan-penyikapan yang jelas terhadap mereka yang terkena penyakit ini. Minimal ada tiga ciri dasar dari orang yang mempunyai sifat riya:

  1. Munculnya keseriusan dan giat dalam bekerja manakala mendapat pujian dan sanjungan, dan akan malas manakala tidak ada pujian, bahkan meninggalkan pekerjaannya manakala dicela oleh orang lain;
  2. Tampilnya profesionalisme kerja manakala dia bekerja secara kolektif, dan apabila bekerja secara individu yang muncul adalah kemalasan yang sangat;
  3. Konsisten di dalam menjaga batasan-batasan Allah SWT apabila bersama orang lain, dan melakukan pelanggaran-pelanggaran manakala dia sendirian.

 

 

  1. Dampak Perilaku Riya

Dampak Dari Sifat Riya

Karena sifat riya merupakan penyakit hati, sudah barang tentu dia mempunyai  efek negatif dalam kehidupan kaum Muslimin, baik secara pribadi maupun dalam bentuk amal islami. Berikut ini adalah dampak negatif dari sifat riya.

  1. 1.   Dampak riya terhadap pelakunya
    1. Terhalangi dari petunjuk dan taufik Allah SWT.
    2. Menimbulkan keguncangan jiwa dan kesempitan hidup.
    3. Hilangnya karismatika dirinya pada orang lain.
    4. Hilangnya profesionalisme dalam bekerja.
    5. Terjerumus pada sikap ujub, terperdaya, dan sombong.
    6. Batalnya amal ibadah yang dilakukan.
    7. Akan mendapat azab pada hari akhir.
    8. 2.   Dampak riya terhadap amal islami

Efek negatif riya yang paling dominan dalam amal islami adalah tertundanya banyak pekerjaan dan terjadinya akumulasi biaya pekerjaan yang besar. Hal itu dilatari karena setiap pekerjaan yang dilakukan menunggu sanjungan orang lain yang pada waktu yang bersamaan akan berimbas pada pembiayaan pekerjaan. Betapa banyaknya pekerjaan-pekerjaan besar yang terbengkalai manakala kaum Muslimin terjangkit penyakit ini. Maka, manakala kita mengetahui dampak negatifnya yang begitu besar, baik secara individu maupun kolektif, menjadi sebuah kewajiban bagi kita untuk menghilangkan dan memusnahkan sifat ini dari diri kita.

 

  1. Contoh Perilaku Riya
  2. Seseorang yang telah bersedekah kepada yayasan,dan meminta ketua yayasan supaya orang yang bersedekah tadi disebutkan/di umumkan kepada orang lain,ahwa dirinya telah bersedekah.
  3. seseorang yang memiliki kecerdasan yang luar biasa dan memamerkannya/menonjolkannya kepada semua orang.
  4. Orang yang telah menunaikan ibadah haji di tahun kemarin dan akan menunaikan ibadah haji lagi di tahun ini.Dengan maksud agar mendapat gelar haji da di puji oleh orang lain.Dan masih bayak lagi contoh-contoh yang lainnya .

 

  1. Cara Mencegah Perilaku Riya

Diantara solusi agar kita terhindar dari perbuatan riya’ adalah sebagai berikut:

  • Mengetahui jenis-jenis amalan yang diperuntukkan untuk dunia dan mengetahui jenis-jenis riya’ serta factor-faktor pendorong perbuatan riya’
  • Mengetahui keagungan Allah Azza wa Jalla.
  • Mengenal/mengetahui apa yang telah Allah persiapkan untuk akhir kehidupan.
  • Takut dari beramal untuk kepentingan dunia.

 

 

 

 

 

 

Bab V. Kesimpulan dan Saran

  1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa:

a)      Riya’ adalah memperlihatkan suatu amal kebaikan kepada sesama manusia, adapun secara istilah yaitu: melakukan ibadah dengan niat dalam hati karena demi manusia,dunia yang dikehendaki dan tidak berniat beribadah kepada Allah SWT

b)     riya’ adalah memperlihatkan (menampakkan) diri pada orang lain, supaya diketahui kehebatan perbuatannya ,baik melalui dari pembicaraan, tulisan, atau pun sikap dan perbuaan dengan tujuan mendapat perhatian, penghargaan dan pujian manusia, bukan ikhlas karena Allah.

c)      Riya’ itu bisa terjadi di dalam niat, yaitu ketika kita akan melakukan pekerjaan dan bisa juga terjadi ketika malakukan pekerjaan atau setelah selesai melakukan pekerjaan.

d)     Riya’ berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain . Terhadap diri ssendiri , bahaya riya’ itu akan dirasakan oleh dirinya sendiri berupa ketidak puasanan, rasa hampa sakit hati dan penyesalan

e)     Dampak riya’ kepada orang lain yaitu ketika orang yang telah dibantu kemudian diumpat dan dicaci itu pasti akan tersinggung dan akhirnya terjadilah perselisihan antara keduanya.

f)       Perbuatan riya’ itu sangat merugikan, kerena itu Allah tidak akan memberi pahala atas perbuatannya.

g)     hikmah dari dilarangnya perbuatan riya adalah mendapatkan ridho dari Allah membuat, hati tenang dan tentram, mempermudah kita bergaul dengan masyarakat

h)     Sebab-sebab Terjadinya Perilaku Riya

  1. 1.   Lingkungan keluarga.
  2. 2.   Pengaruh teman.
  3. 3.   Tidak mengenal Allah SWT dengan baik.
  4. 4.   Keinginan yang berlebihan untuk menjadi pemimpin atau meraih jabatan dan kedudukan.
  5. 5.   Ketamakan kepada harta.
  6. 6.   Kekaguman yang berlebihan dari orang lain.
  7. 7.   Kekhawatiran penilaian yang kurang menyenangkan dari orang lain.

 

 

  1. Saran

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, dapat disarankan agar:

a)      Orang-orang diharuskan menjauhi sifat RIYA karena sifat Riya sangat di benci Allah SWT.

b)      Sifat RIYA membuat seseorang menjadi tidak sadar apa yang telah dia lakukan.

c)      Banyaklah bertwakal kepada allah dan selalu mengingat Allah agar kita terhindar dari sifat RIYA.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s